Sabtu, 31 Januari 2009

PROFILL SISWA BERPRESTASI SLB NEGERI SEMARANG

Jelita Taurina Hutabarat
Meski kondisi fisik cacat, bukan berarti selalu terbelakang dan semua berakhir alias tamat. Adakalanya, penyandang cacat fisik atau mental justru menonjol di bidang-bidang tertentu. Semisal tarik suara, daya ingat yang luar biasa, dan olahraga. Tiga siswa Se­kolah Lu­ar Bi­asa (SLB) Negeri Se­marang ini membuktikan diri. Kemampuan me­reka bahkan mungkin bisa di­bilang melebihi mereka yang normal.Selepas jam sekolah Selasa (29/7) kemarin, Jelita Taurina Hutabarat, 13, tak langsung pulang. Dia justru bermandi peluh saat mengikuti ekstrakurikuler tenis meja di sekolahnya, SLBN Semarang di Kedungmundu. Gadis yang duduk di kelas I SMP Luar Biasa (LB) tersebut tangkas memukul bola dengan bet di tangannya. Beberapa kali, guru olahraga yang menjadi lawannya tampak kewalahan menandingi kemampuannya. Meski kemampuannya lumayan, dia tak pernah tahu berapa skor yang telah didapat. Cewek manis ini juga tak paham skor maksimal tercapai dan menandakan game berakhir. Saat guru olahraga menanyakan berapa skor yang telah diraih, dia menjawab sekenanya. ”Dua-dua,” ujarnya memancing gelak tawa. Padahal saat itu dia sudah mengantongi skor jauh meninggalkan lawannya.Jelita merupakan salah satu penyandang tunagrahita di sekolah tersebut. Cacat bawaan tersebut membuat intelegensianya selalu di bawah 50. Akibatnya, siswa kelas C 1 (mampu latih) tersebut bahkan tak bisa menjawab soal perhitungan yang paling sederhana sekalipun.Meski begitu, Jelita punya bakat istimewa di pingpong. Dia baru saja meraih juara I tenis meja putri antarsiswa SLB se-Jateng. Sebelumnya, dia juga meraih predikat yang sama di tingkat Indonesia bagian timur. Kemampuan Jelita tersebut diketahui secara tak sengaja. “Saat ikut pelajaran olahraga dia terlihat luwes memegang bet. Saat diajari tenis meja, ke­mampuannya cepat sekali ber­kembang,” ujar Kepala SLBN Semarang Ciptono.Walaupun kemampuan akademisnya rendah, prestasinya di bidang olahraga tersebut terus diasah pihak sekolah. Ciptono mengaku pihaknya sidah mem­berikan robot tenis meja yang bisa mengeluarkan bola secara otomatis sebagai lawan tanding. “Saya optimistis bila bakatnya terus diasah, dia bisa mewakili Indonesia,” ungkapnya.

Ivan Adi Nugroho
Bakat khusus di bidang olahraga juga dimiliku Ivan Adi Nugroho, 18 siswa SMA LB kelas II yang menyandang tunarungu. Ivan yang bertubuh atletis tersebut baru saja menjadi juara I lompat jauh pada Porseni SLB tingkat Jateng. Pada 31 Juli nanti dia akan berangkat ke Jakarta guna mewakili Jateng dalam Pekan Olah Raga (POR) anak cacat seluruh Indonesia. “Kemarin lompatannya bisa 5, 47 meter. Besok di Jakarta Insya Allah bisa lebih jauh lagi,” ucapnya terbata-bata saat ditanya Radar Semarang. Komunikasi dengan Ivan beberapa kali harus dibantu gurunya dengan bahasa isyarat. Bila dia tak tahu maksudnya, tanya jawab dilakukan dengan mengetik pesan singkat di ponsel. Ivan kemudian menjawab dengan cara yang sama. Dia mengatakan sudah membelanjakan uang hadiah juara lomba untuk membeli sepatu baru. “Harganya Rp 200 ribu,” ujar anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut.Sejak masuk sekolah luar biasa, Ivan mempunyai kemampuan yang menonjol di bidang atletik. Saat berlari, dan melompat dia terlihat lincah sekali. Sadar akan kemampuannya, pihak sekolah memolesnya. Pada kejuaraan di Jakarta nanti, sekolah kembali berharap dia mengukir prestasi.
Selain itu Ivan Adi Nugraha Juga mempunyai bakat modeling dan Pantomim dan bakatnya itu sudah di tunjukkan kepada masyarakat pada beberapa event penting tingkat daerah.

Kharisma Rizky Pradana
Kemampuan khusus di bidang lain dimiliki Kharisma Rizky Pradana, 9, ssiswa kelas 4 yang menderita autisme sejak lahir. Meski autis, Kharisma yang masuk di kelas dengan kurikulum SD umum ini dikaruniai daya ingat yang luar biasa. Dia hafal ratusan lirik lagu mulai dari lagu anak-anak, pop, dangdut, hingga campursari. Kemampuannya beberapa waktu lalu ditorehkan di Museum rekor Indonesia (Muri) sebagai penyandang autisme yang hafal 250 lagu. Kini koleksi lagu yang dihafal diklaim sudah mencapai 400 lagu.Saat Radar Semarang mengetesnya dengan meminta menyanyikan lagu-lagu populer, anak pasangan Sumirin-Dyah Puji Lestari ini hafal di luar kepala. Mulai dari tembang Main Hati milik Andra and The Backbone, Doi milik Kangen Band, hingga lagu campursari Siti Badriyah. Bocah yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anak ini juga hafal nama-nama menteri, dan mampu menirukan pidato gurunya saat membuka suatu acara secara lengkap.Padahal, Kharisma sempat beberapa kali ditolak saat mendaftar di SD umum. “Dia ditolak karena di sekolah selalu usil, tak bisa diam, dan mengobrak-abrik ruang kepala sekolah,” ungkap Ciptono. Bocah hiperaktif itupun lalu didaftarkan di SLB dan menjalani terapi okupasi untuk konsentrasi dan terapi wicara agar tak selalu membeo. “Karena di kelas suka nyanyi sambil membuat musik dengan mengetuk-ngetuk meja, dia diarahkan ke bidang seni musik.” Sebelum jadi seperti sekarang, penanganan terhadap Kharisma cukup susah. “Sering dia nyanyi di bawah meja, sambil tiduran, bahkan saat tampil di mal, miknya dibawa lari masuk toko,” paparnya.Dyah Puji Lestari, ibu Kharisma menambahkan anaknya sudah bisa membaca dengan lancar di usia 2 tahun tanpa ada yang mengajari. “Dia juga sudah pintar browsing di internet sendiri,” papar dia.

Lasella
Gadis kelas VI ini sangat anggun dan cantik bahkan tidak terlihat sedikitpun kalau dia sekolah di SLB Negeri Semarang. Namun demikian dia mempunyai kelebihan untuk lenggak - lenggok di catwalk sebagai modeling, bahkan dia menjadi juara III modeling tingkat karesidenan Semarang. Selain itu lasella juga mempunyai prestasi dibidang menari, bahkan sudah tiga tarian yang sudah dikuasai dan sudah dipertunjukkan dibanyak kegiatan keluar.

3 komentar:

  1. saya ingin menyekolahkan anak saya di sana bagimana ya ?

    BalasHapus
  2. saya mau tau profile Siti Nur Latifah yg Juara Model Indonesia. apa dari SLBN Semarang juga? kalo ada Facebooknya kirim ke email saya boleh? trimakasih :)

    BalasHapus